Selamatkan Anak Perempuan Anda dari Bisnis Seks

Kompas.com - 10/01/2011, 17:08 WIB

KOMPAS.com — Bisnis layanan seks erat dengan masalah trafficking, perbudakan seks, dan konsumerisme. Nori Andriyani dalam bukunya, Jakarta Uncovered: Membongkar Kemaksiatan, Membangun Kesadaran Baru, menyimpulkan, bisnis layanan seks tak hanya merugikan keluarga si pelaku saja, tetapi juga melestarikan praktik perdagangan perempuan domestik dan internasional, perbudakan seks, dan penindasan anak. Prostitusi berhubungan dengan konsumerisme yang kebanyakan menyasar anak perempuan sebagai korban berbagai godaan gemerlap materi.

Hubungan prostitusi dan konsumerisme tak lain karena adanya iming-iming mengenai gaya hidup yang serbaenak. Sebagai perempuan muda, tak cukup hanya bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memenuhi kebutuhan fesyen dan kecantikan, membeli ponsel terbaru, hingga dugem. Akibatnya, mereka dengan "sukarela" menjual dirinya, tanpa sadar mereka telah menjadi korban dari sistem kapitalisme yang tanpa disadari merasuk dengan budaya konsumerisme.

Meski serangan konsumerisme merajalela, Anda bisa memproteksi anak perempuan dengan segala cara. Upaya ampuh dari orangtua untuk melindungi dan menyelamatkan anak perempuan dari bisnis layanan seks adalah menumbuhkan harga diri dan rasa percaya diri.

Anak perempuan harus teredukasi
Menurut Nori, anak-anak perempuan harus tumbuh dengan memiliki harga diri dan percaya diri (self esteem) untuk mencegah mereka dari perangkap perdagangan seks perempuan.

"Anak-anak perempuan harus dapat merasakan bahwa dirinya tidak dihargai berdasarkan pakaian model terbaru, handphone versi terbaru, atau club, restoran yang didatanginya. Tetapi, ia dihargai karena kualitas pribadinya, keseriusan dalam berkarya di sekolah dan di masyarakat," ujar Nori dalam bukunya.

Anak perempuan juga perlu diberikan pengetahuan dan keterampilan agar tak terjebak dalam tipuan pedagang manusia (trafficker). Inilah juga yang menurut Nori perlu dilakukan agar bahaya trafficking perempuan muda untuk bisnis seks bisa dihindari. Selain itu, perempuan muda perlu teredukasi dengan baik untuk mengantisipasi berbagai tawaran pekerjaan. Artinya, perempuan muda perlu memahami langkah apa saja yang harus dilakukannya setiap kali ditawari pekerjaan, agar tak menjadi korban penipuan terutama terkait pelacuran.

Orangtua perlu mendampingi

Orangtua perlu mendampingi anak perempuan untuk menangkis pengaruh dan tekanan dari masyarakat. Dalam hal ini masyarakat yang menyudutkan perempuan dalam peran seksual yang stereotips, yakni pandangan bahwa perempuan adalah obyek seks dan perempuan harus mempercantik diri untuk berlomba mendapatkan pasangan laki-laki. 

"Pandangan seperti ini hanya akan menyudutkan kaum perempuan muda pada posisi subordinat terhadap laki-laki. Perempuan bisa menjadi korban rayuan pedagang perempuan untuk bisnis seks," kata Nori.

Dengan mengaplikasikan berbagai upaya perlindungan ini, orangtua bisa menyelamatkan anak perempuan dari layanan bisnis seks, yang lebih banyak menempatkan perempuan sebagai korban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau